Anjing dalam bahasa Jawa memiliki sebutan “asu” dan “segawon” (dalam  bahasa ngoko). Dalam bahasa Jawa anjing memiliki banyak gambaran, terutama pada masa awal sjawa kuno dimana anjing memiliki peran yang cukup penting. Orang Jawa sering menggunakan sebutan “asu” dalam kehidupan sehari-hari. “Asu:” sedniri adalah sebutan yang memiliki makna negatif dalam komunikasi sehari-hari dalam budaya Jawa. Seringnya ditujukan untuk tujuan menghina atau pun merendahkan orang lain. Namun dalam beberapa kasus digunakan sebagai bahasa pengantar untuk pergaulan dengan teman dekat. Di Lombok pun anjing juga memiliki istilah “acong” atau “basong” yang juga memiliki arti konotasi negatif. Namun, hanya karena anjing memiliki makna yang negatif dalam penggunaannya, tidak berarti hewan ini sangat buruk dalam segala hal. Karena tentunya hewan juga diciptakan pasti karena ada sesuatu yang positif dibaliknya. Mini Goldendoodle telah memberikan ulasan beberapa hal yang bisa dicontoh dari “Asu”, antara lain:

Mempelajari Perspektif Positif Anjing Dalam Bahasa Jawa

  1. Manfaat Asu Dalam Kehidupan Manusia

Asu memiliki manfaat yang cukup penting dalam kehidupan manusia yakni, ia bisa menjadi teman dalam hal berburu serta menjadi alat pelacak dalam kegiatan perburuan. Sebagai hewan yang cukup cerdas asu sering membantu manusia dalam banyak hal di kehidupan. Bahkan, asu sering menjadi salah satu hewan yang sangat disayangi oleh manusia. Di sisi lain asu juga menjadi inspirasi banyak film pada penggunaan tokoh anjing dalam karakter utamanya. Hal ini patut kita contoh dari asu karena dia bukan hanya hewan saja namun bisa mendatangkan banyak manfaat serta menjadi penolong sekaligus teman dekat manusia.

  1. Penggambaran Positif Asu

Dalam penelitian asu dijadikan sebuah simbol yang memiliki makna loyalitas (kesetian) pada majikannya. Dari  jaman dahulu asu sudah banyak dipercayai oleh orang-orang. Bahkan salah satunya bisa kita temui dari sosok pemilik shio anjing yang memiliki karakteristik sebagai orang yang loyal dan setia. Di sisi lain seperti dalam mitologi Mesir kuno dimana sosok anjing anubis menjadi dewa dalam kematian yang membantu jiwa-jiwa yang hilang untuk menuju ke akhirat dengan selamat sampai tujuan.

Dari ulasan di atas bisa ketahui bahwa asu tidak hanya memiliki pandangan konotasi yang negatif dalam bahasa namun juga memiliki pandangan yang baik dalam hal tertentu.